CATATAN USIA DUA PULUH ENAM

Prolog seperti apa ya yang tepat untuk memulai tulisan ini?

Begitu banyak hal di kepala yang memaksa untuk dikeluarkan. Sebuah catatan di usia dua puluh enam tahun. 

Perasaan yang menggebu-gebu. Emosi yang tertahan. Semua bergumul dalam hati dan pikiran.

Bagiku, usia dua puluh lima terasa bagaikan “terbangun kembali dari mimpi buruk” yang mengekangku selama 5 tahun ke belakang. Mimpi buruk yang menorehkan luka paling menyakitkan yang pernah aku rasakan sepanjang umurku.

Aku masih ingat dengan jelas bentakan, teriakan, dan tangisan kala itu. Semuanya masih terasa amat sakit. Orang bilang, waktu yang akan menyembuhkan. Ada juga yang bilang, bukan waktu, tapi diri kita sendiri yang harus belajar ikhlas dan menerima.

Yang menjadi pertanyaanku adalah seberapa lama kah proses ikhlas dan menerima itu? Jika rasa sakitnya masih jelas terasa, apakah itu artinya belum ikhlas dan menerima?

Usia dua puluh enam. Di saat banyak orang yang mengharapkan kedewasaan dalam menghadapi segala sesuatu. Tapi aku… merasa masih sangat jauh dari kedewasaan itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Come Back

My New Post

KEEP GOING